ROI atau Return on Investment adalah salah satu KPI SEO yang digunakan untuk mengukur efektivitas investasi dari aktivitas SEO perusahaan Anda. Secara teknis, ROI menghitung laba bersih yang didapatkan dari nominal investasi yang sudah dikeluarkan untuk menjalankan campaign SEO.
Sebagian besar traffic yang didapatkan oleh website bersumber dari pencarian organik. Melalui penerapan SEO yang baik, sebuah website dapat meningkatkan jumlah pengunjungnya. Lantas, apakah KPI SEO hanya mengacu pada jumlah traffic?
Beberapa SEO specialist terlalu fokus pada metrik seperti organic traffic atau posisi ranking. Kedua metrik tersebut memang penting, namun hasil akhir yang diharapkan dari SEO adalah pertumbuhan bisnis secara finansial. Sayangnya, tidak banyak SEO specialist yang mengetahui apakah aktivitas yang dilakukan menguntungkan bisnis atau tidak.
Jumlah traffic yang tinggi akan jadi sia-sia jika tidak memberikan dampak terhadap bisnis secara finansial walaupun anda juga sudah proses benchmarking dengan perusahaan lain. Dengan menghitung ROI SEO, Anda dapat mengetahui seberapa baik channel tersebut dalam menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.
Jika ingin mengetahui seberapa efektif aktivitas SEO Anda dalam menghasilkan keuntungan dari investasi yang dikeluarkan, Anda perlu tahu caranya mengukur ROI SEO. Ada beberapa metrik lain yang harus Anda ketahui sebelum melakukan pengukuran ROI, yaitu biaya investasi SEO dan nilai konversi yang didapatkan secara organik.
Langkah awal yang perlu dilakukan sebelum menghitung ROI adalah mengetahui seberapa besar biaya investasi Anda terhadap aktivitas SEO. Untuk mengetahuinya, jumlahkan setiap anggaran yang berkaitan dengan SEO. Beberapa anggaran tersebut mencakup:
Setelah menentukan biaya investasinya, Anda juga harus mengetahui nilai konversi dari aktivitas SEO yang dijalankan. Setiap website memiliki metode yang berbeda dalam menghitung nilai konversi ini karena model bisnisnya bisa jadi tidak sama.
Jika jenis websitenya adalah e-commerce, Anda perlu mengaktifkan e-commerce tracking di Google Analytics. Caranya:
Untuk mengetahui nilai konversi, Anda bisa mengakses e-commerce report di dalam menu “Conversion” pada Google Analytics. Segmentasikan datanya sehingga hanya menampilkan data dari organic traffic. Lalu, perhatikan metrik “Revenue”. Metrik tersebut yang akan digunakan untuk mengukur ROI SEO.
Jika jenis website Anda adalah lead generation, prosesnya akan sedikit lebih sulit karena biaya transaksi terjadi secara offline sehingga Anda tidak dapat mengetahui angka pasti dari nilai konversinya. Untuk mengatasinya, Anda bisa memperkirakan nilai dari setiap leads tersebut.
Anda sudah mendapatkan semua data yang dibutuhkan seperti biaya investasi dan nilai konversi. Selanjutnya, Anda sudah bisa menghitung ROI SEO dengan menggunakan formula berikut ini:
(Nilai Konversi - Biaya Investasi) / Biaya Investasi = ROI SEOSebagai contoh, Anda berhasil mendapat 75 juta rupiah dari hasil campaign SEO. Biaya yang diperlukan untuk menjalankan campaign tersebut sebesar 25 juta rupiah. Dari dua data tersebut, ROI dari aktivitas SEO yang Anda jalankan adalah:
(Rp75.000.000 - Rp25.000.000) / Rp25.000.000 = 2Dari hasil perhitungan tersebut, nilai ROI SEO tersebut adalah 200% (2 x 100 untuk mendapatkan nilai persentasenya). Artinya, aktivitas SEO yang dilakukan dapat menghasilkan keuntungan dua kali lipat dari biaya investasi yang dikeluarkan.
Pengukuran terhadap ROI SEO memiliki tantangan yang lebih sulit dibandingkan dengan strategi lainnya seperti PPC. Pasalnya, SEO biasanya tidak memiliki biaya investasi yang tetap di setiap periodenya. Hal ini membuat nilai ROI sulit, bahkan tidak mungkin, digunakan sebagai acuan dalam proses penentuan nilai investasi periode berikutnya.
cmlabs
Berlangganan Newsletter kami
Masukkan alamat email anda untuk menerima notifikasi Newsletter kami