Thin content adalah konten yang kurang memiliki makna bagi pengguna. Hal ini juga merepresentasikan bahwa thin content pada sejatinya merupakan konten yang tak banyak memberikan manfaat bagi para pembacanya.
Jika Anda ingin website Anda menempati urutan teratas mesin pencari, tetapi Anda menggunakan konten yang thin, jangan harap website Anda bisa muncul di halaman pertama. Sebab, mesin pencari seperti Google memiliki kemampuan untuk mendeteksi thin content pada setiap website.
Jika Google berhasil menemukan thin content pada website Anda, Google akan memberikan skor rendah, dan otomatis peluang website Anda untuk muncul di urutan teratas akan semakin kecil.
Setelah mengetahui pengertiannya, berikut ini ciri-ciri thin content yang perlu Anda ketahui:
Menduplikasi konten dari situs lain merupakan sebuah tindakan yang sangat tidak disukai oleh Google. Tindakan copy paste, hingga menerjemahkan konten berbahasa asing juga merupakan tindak duplikasi konten.
Jika tak ingin terkena penalti dari Google, buatlah konten yang orisinil. Jangan lupa untuk melakukan editing dan cek plagiasi sebelum mempublikasikan konten Anda, untuk memastikan bahwa konten Anda bukanlah hasil duplikasi.
Dalam mengelola sebuah website, Anda harus memastikan bahwa tidak ada keyword atau key phrase yang mirip antara halaman satu dengan lainnya. Sebab, tindakan seperti ini bisa dianggap sebagai doorway page oleh Google.
Mesin pencari akan menganggap halaman website Anda tidak berkualitas, karena Anda terkesan melakukan optimasi keyword secara berlebihan. Buatlah konten dengan tujuan utamanya adalah kenyamanan pembaca, bukan meningkatkan ranking website.
Memasang affiliate link merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan trafik organik dengan memasang link yang menghubungkan halaman satu dengan halaman lainnya.
Namun, jika Anda memasang affiliate link yang tidak relevan dengan konten, hal ini juga dianggap sebagai pelanggaran oleh Google. Sebab, dari sini Anda terkesan memasang link hanya untuk meningkatkan ranking website, tanpa memperhatikan relevansi antara konten dan affiliate link tersebut.
Jika Anda menginginkan posisi teratas di SERP, Anda juga harus mampu memproduksi konten-konten yang padat, jelas, dan bermakna bagi para pengguna. Jika Anda membuat konten dengan isi yang terlalu sedikit, hal ini akan membuat pengguna tidak mendapatkan penjelasan yang cukup dari konten tersebut. Jangan lupa juga gunakan bahasa yang mudah dipahami untuk meningkatkan kenyamanan pengguna saat membaca konten Anda.
Hal pertama yang dapat Anda lakukan untuk memperbaiki konten yang thin adalah melakukan site audit. Melalui site audit ini, Anda akan menemukan halaman mana saja yang terdeteksi sebagai thin content, atau halaman yang tidak berkualitas.
Anda bisa melakukan beberapa perbaikan seperti: menambah jumlah informasi, memperbaiki tata bahasa konten, hingga menghapus beberapa keyword untuk mengurangi risiko terdeteksi sebagai doorway page.
Jangan lupa untuk mengganti keyword yang sama, namun kontennya berbeda. Pilihlah kata kunci yang tepat sesuai dengan search intent untuk mengoptimasi website Anda. Hal ini akan membantu Anda untuk meminimalisir risiko terkena penalti dari Google akibat konten yang thin.
Selain itu, bila Anda ingin melakukan deteksi indikasi thin content secara menyeluruh untuk website Anda, Anda bisa menggunakan jasa SEO supaya website Anda lebih mudah untuk menjangkau posisi teratas mesin pencari.

Firda Amalia Mahmud
Berlangganan Newsletter kami
Masukkan alamat email anda untuk menerima notifikasi Newsletter kami