Social Commerce: Pengertian, Jenis, Cara Kerja, dan Contohnya

Dipublikasikan May 4, 2026, 23:25 | Terakhir diperbarui pada May 4, 2026, 23:25 oleh cmlabs Team
Social Commerce: Pengertian, Jenis, Cara Kerja, dan Contohnya Image Cover

Social commerce adalah model perdagangan di mana seluruh proses jual beli, mulai dari penemuan produk, interaksi dengan penjual, hingga pembayaran, berlangsung langsung di dalam platform media sosial tanpa perlu berpindah ke toko atau aplikasi lain.

Dahulu, media sosial hanya digunakan untuk berbagi momen atau memperluas koneksi saja. Kini, fungsinya jauh lebih luas dari sekadar itu saja, sebab konsumen dapat menemukan produk, bertanya kepada penjual, lalu menyelesaikan transaksi tanpa harus membuka tab baru atau berpindah aplikasi.

Ingin bisnis Anda menjangkau lebih banyak konsumen lewat media sosial? Ini saatnya mencoba social commerce. Agar lebih memahami konsepnya, yuk, simak artikel di bawah ini hingga tuntas! 

Apa Itu Social Commerce?

Social commerce adalah penggunaan media sosial yang mengintegrasikan seluruh proses jual beli, mulai dari penemuan produk, interaksi dengan penjual, hingga penyelesaian pembayaran, langsung di dalam platform. Cakupannya pun sangat luas, mulai dari social commerce Indonesia, social commerce Southeast Asia, bahkan global.

Berbeda dengan e-commerce tradisional yang mengharuskan customer mengunjungi website atau aplikasi tersendiri, social commerce mengatur transaksi agar terjadi sepenuhnya di dalam ekosistem media sosial yang sudah digunakan sehari-hari. 

Customer tidak perlu diarahkan ke luar aplikasi. Mereka dapat menemukan produk saat menggulir halaman, bertanya lewat komentar atau direct message, lalu langsung melakukan pembayaran. 

Perbedaan ini memang terlihat sederhana, namun dampaknya cukup signifikan terhadap pengalaman belanja dan tingkat konversi. Semakin sedikit langkah yang perlu dilalui customer saat membeli, semakin besar kemungkinan transaksi berhasil diselesaikan.

Baca juga: Cara Mengembangkan Platform Conversational Commerce untuk Bisnis

Jenis-Jenis Social Commerce

Social commerce adalah model jual beli barang lewat media sosial yang praktis. Nah, tapi perlu diketahui bahwa ada beberapa model yang berkembang berdasarkan cara interaksi sosial yang memfasilitasi transaksi jual beli tersebut, di antaranya:

1. Live Shopping 

Format social commerce satu ini memang paling populer sekarang, khususnya di Indonesia. Penjual melakukan siaran langsung (live stream) untuk mendemonstrasikan produk pada waktu itu juga, sementara target audiens dapat bertanya dan langsung membeli di kolom yang tersedia. Salah satu contoh media sosial yang menjadi pelopor dari strategi ini di Asia Tenggara adalah TikTok Shop.

2. Conversational Commerce 

Model satu ini melibatkan seluruh proses transaksi jual beli hanya melalui aplikasi chat. Mulai dari konsultasi produk, pengiriman katalog, hingga pemrosesan pesanan, semuanya dilakukan dalam satu thread percakapan. WhatsApp Business API adalah contoh paling umum di Indonesia.

3. Influencer-Driven Sales 

Model ini memanfaatkan kepercayaan yang sudah dibangun oleh influencer atau KOL (Key Opinion Leader) kepada para pengikutnya. 

Singkatnya, business owner akan berkolaborasi dengan para talent untuk membuat konten berupa video, ulasan, atau live stream. Dari konten inilah talent dapat mendorong para audiens untuk membeli produk.

4. Peer-to-Peer Sales (P2P) 

Model ini memungkinkan individu untuk langsung berjualan kepada individu lain, biasanya melalui fitur marketplace yang sudah tersedia di dalam platform seperti Facebook Marketplace. P2P ini berfokus pada aspek kemudahan dan kedekatan geografis antara customer dan penjual.

5. Group Buying atau Social Shopping 

Grup jual beli ini mendorong customer untuk melakukan pembelian secara kolektif agar mendapatkan diskon atau penawaran yang lebih menguntungkan. Interaksi sosial berfungsi sebagai alat untuk memobilisasi customer hingga mencapai jumlah minimum yang dibutuhkan.

Cara Kerja Social Commerce

Secara teknis, social commerce bekerja melalui empat tahapan yang saling berkesinambungan. Berikut adalah beberapa cara kerjanya:

1. Menyiapkan Akun dan Katalog Produk 

Penjual membuat dan mengoptimalkan akun bisnis di platform yang memiliki fitur belanja bawaan, seperti Instagram Shopping atau TikTok Shop, lalu mengintegrasikannya dengan katalog produk dan sistem pembayaran yang tersedia. 

2. Penemuan Produk Lewat Konten (Discovery

Berbeda dengan e-commerce tradisional yang mengandalkan pencarian terencana, produk di social commerce sering ditemukan secara spontan melalui konten visual menarik seperti video pendek, foto, atau siaran langsung. Dalam hal ini, algoritma platform berperan penting dalam mendorong produk ke feed pengguna yang relevan.

3. Interaksi dan Review 

Calon customer dapat mengajukan pertanyaan dan mendapatkan respons secara real-time melalui kolom komentar atau live chat. Ulasan, testimoni, dan rekomendasi dari pengguna lain membangun kepercayaan yang menyerupai pengalaman belanja tatap muka.

4. Transaksi Langsung (In-App Checkout)

Ketika minat muncul, customer dapat memilih produk, mengisi detail pengiriman, dan menyelesaikan pembayaran tanpa berganti platform. Inilah yang membuat social commerce jauh lebih efisien dibandingkan dengan model belanja online konvensional.

Baca juga: Singular vs. Plural Keywords: Mana yang Cocok untuk E-Commerce?

Manfaat Social Commerce

Ada beberapa alasan mengapa social commerce layak dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi bisnis digital Anda. Berikut beberapa manfaat social commerce:

1. Pengalaman Belanja Lebih Personal dan Interaktif

Konsumen dapat berinteraksi langsung dengan penjual layaknya di toko offline, sehingga menciptakan customer trust yang lebih tinggi. Hal ini sulit dicapai oleh e-commerce biasa yang transaksinya cenderung impersonal.

2. Proses Transaksi Lebih Praktis

Seluruh perjalanan dari penemuan hingga pembayaran terjadi di satu platform. Dengan kata lain, hambatan yang sering muncul saat harus berpindah platform akan berkurang drastis, sehingga mendorong konversi yang lebih tinggi.

3. Jangkauan Target Audiens yang Luas 

Menurut laporan DataReportal “Digital 2026 Indonesia”, jumlah pengguna media sosial di Indonesia sekitar 180 juta orang pada 2026, atau sekitar 62,9% dari total populasi. 

Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia sudah terhubung secara aktif ke platform‑platform media sosial.

4. Kemudahan Mengumpulkan Data Pelanggan

Setiap interaksi, baik komentar, direct message, maupun pembelian, adalah data berharga. Bisnis bisa memperoleh wawasan langsung tentang apa yang disukai dan tidak disukai pelanggan, tanpa harus melakukan riset terpisah.

5. Efektif Menjangkau Segmen Muda

Social commerce adalah tempat di mana Gen Z dan milenial menghabiskan waktu dan berbelanja. Jika target audiens Anda berusia 18–34 tahun, inilah tempat paling tepat untuk menjangkau mereka.

Platform Social Commerce

Beberapa platform besar kini sudah menyediakan fitur social commerce langsung di dalamnya. Berikut beberapa contoh social commerce yang sering kali dijumpai:

1. TikTok Shop 

Mungkin Anda sudah tidak kaget, jika platform ini mendominasi pasar social commerce di Indonesia. Survei Databoks mencatat bahwa 46% konsumen memilih TikTok sebagai platform belanja favorit mereka. Keunggulannya terletak pada fitur Live Shopping dan "Keranjang Kuning" yang mendorong transaksi impulsif saat menonton video pendek atau siaran langsung.

2. Instagram Shopping

Platform ini memanfaatkan fokus visualnya dengan fitur product tagging pada konten foto dan Reels. Saat ini fitur ini tersedia di lebih dari 70 negara, termasuk Indonesia. Pengguna dapat melihat detail produk dan diarahkan ke halaman checkout langsung dari dalam aplikasi.

2. Facebook Shop 

Facebook Shop memungkinkan bisnis membuat storefront digital langsung di dalam ekosistem Facebook. Dengan basis pengguna yang masih sangat besar di Indonesia, produk Anda bisa menjangkau jauh lebih banyak orang tanpa harus keluar platform.

3. WhatsApp Business API 

Platform ini mendukung model conversational commerce secara penuh. Meskipun berbasis chat, WhatsApp menempati posisi kedua sebagai saluran social commerce paling banyak digunakan di Indonesia. Bisnis dapat memajang katalog produk dan memproses pesanan melalui interaksi yang terasa personal.

Contoh Social Commerce di Indonesia dan Asia Tenggara

Asia Tenggara adalah salah satu pasar social commerce paling aktif di dunia, dan Indonesia merupakan pusatnya. Berikut beberapa contoh social commerce yang banyak digunakan di Indonesia:

1. TikTok Shop Indonesia 

Seperti yang telah dikenal, platform TikTok Shop memang banyak dikenal. Brand lokal seperti Scarlett Whitening berhasil membangun awareness dan penjualan masif melalui kombinasi konten kreator, siaran live harian, dan fitur affiliate yang mendorong ribuan penjual kecil untuk ikut memasarkan produk mereka.

2. Tokopedia 

Platform ini mengintegrasikan elemen sosial ke dalam platform e-commerce-nya melalui fitur live streaming dan ulasan produk berbasis komunitas, memungkinkan penjual berinteraksi langsung dengan calon pembeli sebelum transaksi terjadi.

3. Shopee

Shopee Live dan Shopee Feed Asia Tenggara menghadirkan kanal social commerce yang memungkinkan penjual dan pembeli berinteraksi serta mempromosikan produk secara langsung di dalam aplikasi.

4. Lazada 

Walaupun sama-sama banyak digunakan di Indonesia, Lazada memanfaatkan strategi KOL endorsement dan live streaming untuk mendorong penjualan. Model ini juga diterapkan di Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam sebagai bagian dari ekosistem social commerce Lazada Group.

Tantangan dalam Mengimplementasi Social Commerce

Social commerce memang menawarkan banyak peluang, namun implementasinya tidak selalu mulus. Ada beberapa tantangan nyata yang perlu diantisipasi sejak awal.

1. Volume Percakapan yang Tinggi

Semakin terkenal bisnis Anda, semakin banyak komentar, pertanyaan, dan chat yang masuk secara bersamaan dari berbagai platform. 

Tanpa sistem yang terstruktur, leads bisa terabaikan dan peluang penjualan hilang begitu saja. Kecepatan respons adalah faktor kritis dalam social commerce, karena konsumen yang tidak mendapat jawaban cepat cenderung beralih ke kompetitor.

2. Pengelolaan Stok dan Koordinasi Tim

Ketika penjualan terjadi secara simultan di beberapa platform, koordinasi stok menjadi tantangan tersendiri. 

Bayangkan dua admin melayani dua calon pembeli di waktu yang bersamaan untuk produk yang stoknya hanya tersisa satu. Tanpa koordinasi yang baik, overselling bisa terjadi dan merusak kepercayaan pelanggan.

3. Pemusatan dan Pengelolaan Data Pelanggan

Tidak seperti website yang secara otomatis merekam data setiap transaksi, social commerce kerap menyebarkan informasi pelanggan di berbagai inbox chat yang berbeda. 

Tanpa sistem terpusat, data pelanggan sulit dikelola untuk kebutuhan follow-up dan kampanye pemasaran selanjutnya.

4. Konsistensi Konten di Berbagai Platform

Setiap platform memiliki karakteristik konten yang berbeda. Format yang berhasil di TikTok belum tentu efektif di Instagram atau Facebook. 

Menjaga konsistensi pesan brand sekaligus menyesuaikan konten dengan format masing-masing platform membutuhkan tim yang terorganisir dan strategi konten yang matang.

5. Pengukuran ROI secara Akurat

Mengukur return on investment dari social commerce tidak semudah membaca laporan e-commerce biasa. Interaksi terjadi di berbagai titik, dari komentar, live stream, hingga direct message, dan tidak semuanya langsung menghasilkan transaksi yang mudah dilacak. Tanpa alat ukur yang tepat, bisnis sulit mengetahui mana yang benar-benar mendorong penjualan.

Jadikan Social Commerce Bagian dari Strategi Bisnis Anda, Bersama cmlabs!

Social commerce adalah metode jual beli yang praktis. Dari cara kerjanya, jenis-jenisnya, hingga platform yang sudah tersedia, semuanya menunjukkan bahwa model ini sudah menjadi bagian nyata dari cara orang Indonesia berbelanja hari ini.

Yang menarik, ekosistemnya juga sudah tersedia di Indonesia. Mulai dari TikTok Shop, Instagram Shopping, WhatsApp Business, semuanya sudah digunakan jutaan orang setiap hari. 

Maka dari itu, bisnis yang masuk lebih awal dengan strategi yang tepat punya peluang jauh lebih besar dibanding yang masih menunggu.

Jika bisnis Anda sedang mempertimbangkan social commerce sebagai bagian dari strategi pemasaran digital, cmlabs dapat membantu. 

Melalui layanan Social Media Management, tim kami dapat menyusun pendekatan yang tidak hanya meningkatkan engagement di platform media sosial Anda, tetapi juga merancang strategi yang menargetkan konversi melalui social commerce apabila dibutuhkan.

Ingin tahu lebih lanjut bagaimana kami bisa mendukung pertumbuhan bisnis Anda? Hubungi kami dan diskusikan kebutuhan Anda bersama tim ahli kami sekarang juga!

Baca juga: Cara Kerja SEO dan Manfaatnya Bagi Bisnis, Wajib Tahu!

Blog Card

cmlabs Team

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya! Di cmlabs, kami senang berbagi artikel-artikel baru dan keren seputar SEO setiap minggunya. Jadi, kamu akan selalu mendapatkan informasi terkini tentang topik yang kamu minati. Jika kamu benar-benar suka dengan konten-konten di cmlabs, kamu bisa bergabung dengan newsletter email kami Dengan berlangganan, kamu akan mendapatkan pembaruan langsung di kotak masukmu. Oh ya, kalau kamu tertarik untuk berkontribusi sebagai penulis di cmlabs, jangan khawatir! Kamu bisa menemukan informasi lebih lanjut di sini Jadi, ayo bergabung dengan komunitas cmlabs dan ikuti perkembangan terbaru seputar SEO bersama kami!

Bagaimana pendapat Anda? Apakah Anda menyukai artikel ini?

Berlangganan Newsletter kami

Masukkan alamat email anda untuk menerima notifikasi Newsletter kami

Layanan SEO
Penulisan Konten SEO
Penulisan Ahli
Pembelian Media