Kami menggunakan cookies
Situs ini menggunakan cookies dari cmlabs untuk memberikan dan meningkatkan kualitas layanannya serta menganalisis lalu lintas..
Kami menggunakan cookies
Situs ini menggunakan cookies dari cmlabs untuk memberikan dan meningkatkan kualitas layanannya serta menganalisis lalu lintas..
Dipublikasikan Dec 24, 2025 16:12
Bagi pebisnis, mengejar lead yang belum siap membeli sering kali terasa membuang waktu dan energi. Padahal, lead sebenarnya bisa dikategorikan berdasarkan tingkat kesiapan mereka untuk membeli, salah satunya adalah Marketing Qualified Lead (MQL).
Memahami konsep MQL bisa menjadi titik balik yang penting dalam mengembangkan strategi pemasaran. Jika Anda ingin mengetahui apa itu MQL, karakteristiknya, dan cara mendapatkannya, artikel ini hadir sebagai solusi. Yuk, simak hingga tuntas!
Marketing Qualified Leads (MQL) adalah lead yang menunjukkan minat awal terhadap brand sehingga berpotensi menjadi pelanggan. Minat yang dimaksud bisa berupa pengisian form di website, interaksi aktif di media sosial brand, ataupun berlangganan newsletter.
Jika mengacu pada tahapan marketing funnel, MQL ada di bagian Middle of the Funnel Marketing (MoFu). Sebab, mereka bukan lagi cold lead yang baru mengenal brand, namun juga belum menjadi hot lead yang siap ditawari produk secara langsung. Maka, MQL masih membutuhkan edukasi dan informasi tambahan sebelum diyakinkan untuk membeli.
Sejatinya, MQL hanya salah satu jenis leads dalam digital marketing. Masih ada beberapa jenis lainnya, yaitu sebagai berikut:
Baca juga: Apa Itu Top Funnel Marketing, Fungsi, Jenis, & Contoh Strateginya
Dari keenam jenis leads dalam digital marketing, mungkin MQL dan SQL terlihat mirip karena prospek sudah sama-sama mengenal brand dan menunjukkan ketertarikan. Namun, ada beberapa aspek yang membuat keduanya sangat berbeda, di antaranya:
Jika dilihat dari tujuannya, MQL umumnya berfokus pada pengumpulan informasi dan pencarian solusi. Artinya, mereka sudah menyadari masalah atau kebutuhan tertentu, dan sedang membandingkan beberapa solusi, namun belum fokus pada transaksi.
Di sisi lain, SQL biasanya sudah melewati masa riset dan mulai memikirkan anggaran, fitur, serta kesesuaian antara keduanya. Intinya, SQL sudah siap berdiskusi secara komersial dan siap menerima penawaran ataupun melakukan negosiasi.
Karena berfokus pada pengumpulan informasi, maka MQL biasanya mulai berlangganan newsletter, mengisi form lead magnet, mengunduh e-book produk, dan sering mengunjungi media sosial atau blog dari brand terkait. Maka, jika dilihat dari tahapan marketing funnel, MQL termasuk dalam Middle of the Funnel (MoFu).
Sementara itu, SQL sudah melakukan hight-intent actions seperti menghubungi sales, menambahkan produk ke dalam keranjang, bahkan mengajukan request konsultasi atau demo. Hal ini membuatnya masuk ke dalam tahapan Bottom of the Funnel (BoFu) dan perlu segera ditindaklanjuti agar melanjutkan ke pembelian.
Demografi atau karakteristik dasar yang dapat membedakan MQL dan SQL di antaranya jenis pekerjaan, industri, dan skala perusahaan. Faktanya, lead yang aktif belum tentu siap melanjutkan ke pembelian. Sebaliknya, lead yang profilnya sesuai bisa jadi lebih bernilai meski interaksinya belum intens.
Sebagai contoh, lead dengan jabatan pengambil keputusan bisa lebih cepat menjadi SQL, namun lead dengan jabatan junior bisa saja tetap menjadi MQL meski berinteraksi aktif. Namun, ketentuan ini dapat berubah sesuai dengan tujuan bisnis perusahaan.
Dari nama masing-masing lead, Anda pasti sudah bisa menebak siapa penanggung jawabnya. Ya, penanggung jawab MQL adalah tim marketing, sedangkan penanggung jawab SQL adalah tim sales.
Aktivitas umum tim marketing biasanya berupa email nurturing, webinar, atau content remarketing. Adapun aktivitas tim sales berfokus untuk mendorong keputusan membeli, bukan lagi edukasi.
Meskipun MQL belum tentu melakukan pembelian, perannya dalam strategi pemasaran sangat penting, setidaknya karena tiga alasan ini:
Baca juga: Conversion Rate Optimization (CRO): Pengertian, Manfaat, dan Strateginya
Untuk menghindari kesalahan identifikasi terhadap leads bisnis, mari kenali karakteristik MQL berikut ini:
MQL sudah mulai memperhatikan produk dengan mencari informasi lebih lanjut. Mereka bisa mencari informasi pada halaman produk di website, membaca review di Google, ataupun melihat katalog di Instagram.
Setelah mencari tahu lebih lanjut, MQL biasanya juga bersedia memberikan data kontak dengan mengisi formulir, berlangganan newsletter, atau mengunduh e-book. Karena kontak merupakan data private, maka memberikannya pada brand menunjukkan bahwa mereka serius ingin berkomunikasi lebih lanjut dengan brand.
Seorang prospek tergolong MQL jika profilnya sesuai dengan target market brand, misalnya dalam hal umur, lokasi, pekerjaan, atau industrinya.
Selain itu, kebutuhannya juga selaras dengan solusi yang brand tawarkan. Artinya, mereka bukan hanya tertarik secara umum, tetapi memang mencari solusi yang cocok.
Misalnya, MQL sedang mencari produk perawatan kulit untuk kulit sensitif, lalu brand menyediakan produk dengan formula yang lembut, bebas bahan iritan, dan memiliki klaim hypoallergenic. Dengan adanya keselarasan ini, peluang konversi menjadi lebih tinggi.
MQL tak hanya melihat konten pemasaran brand, namun juga berinteraksi secara aktif di dalamnya. Interaksi ini meningkatkan pemahaman mereka terhadap produk sekaligus peluang untuk membelinya.
Ingat, MQL sebenarnya belum siap membeli karena masih dalam tahap pertimbangan atau perbandingan. Maka, tak heran kalau mereka masih terbuka dengan edukasi lebih lanjut. Dengan treatment yang tepat, kepercayaan mereka terhadap brand bisa meningkat dan minat pembelian semakin besar.
Agar alur kerja lebih efisien dan tepat sasaran, tim marketing bisa melakukan sejumlah cara berikut untuk mendapatkan MQL:
Formulir di website merupakan media yang tepat untuk mengumpulkan data calon pelanggan, baik berupa nama, email, nomor telepon, atau data relevan lainnya. Nantinya, data ini bisa membantu pengkategorian leads, apakah mereka masuk kategori MQL atau bukan.
Selain itu, formulir juga bisa membantu tim marketing untuk menghubungi prospek dengan cara yang tepat, menyesuaikan dengan profil dan kebutuhan mereka.
Lead magnet berfungsi sebagai nilai tukar antara bisnis dan calon pelanggan, di mana bisnis memberikan sesuatu yang bernilai, lalu calon pelanggan memberikan data kontak sebagai imbalannya.
Sesuatu yang bernilai bisa berupa exclusive e-book, free trial, demo produk, webinar, email newsletter, whitepaper, atau media sejenisnya. Adapun data kontak bisa berupa email, industri, pekerjaan, atau kebutuhan yang relevan.
Baca juga: 6 Strategi untuk Maksimalkan Lead Generation dengan SEO
Lead nurturing email adalah serangkaian email marketing yang dikirim secara berkala kepada lead. Tujuannya bisa beragam, mulai dari memberikan informasi tambahan yang relevan dengan kebutuhan mereka, memperkuat hubungan, maupun mendorong pembelian.
Lead nurturing email bisa berisi tips penggunaan produk, studi kasus, atau penjelasan manfaat lebih detail.
Adapun follow-up email adalah email yang dikirimkan sebagai bentuk tindak lanjut setelah adanya interaksi tertentu, misalnya setelah leads mengisi form, mengunduh materi, atau menghadiri webinar.
Follow-up email bertujuan untuk mengingatkan leads mengenai produk yang mereka minati, menawarkan bantuan lebih lanjut, atau mendorong tindakan tertentu seperti membeli atau request demo produk.
Sebagai contoh, leads sudah mengisi form untuk mengunduh ebook “Belajar Menjadi Content Creator Edukasi”. Selanjutnya, Anda bisa mengirimkan email dengan pola berikut:
Selain ketiga cara di atas, Anda dapat berkolaborasi dengan mitra digital marketing yang berpengalaman dan memiliki spesialisasi yang mendukung tujuan bisnis. Nah, cmlabs adalah mitra digital marketing yang bisa Anda andalkan.
cmlabs menawarkan layanan all-in-one digital marketing untuk membantu bisnis Anda mendapatkan qualified leads dari berbagai platform, baik media sosial maupun mesin pencari seperti Google. Layanan all-in-one digital marketing cmlabs mencakup:
Setelah memahami apa itu MQL dan mengetahui partner yang tepat, untuk apa menunda lagi? Segera hubungi tim cmlabs untuk berkonsultasi dan mendapatkan penawaran terbaik yang sesuai dengan tujuan bisnis Anda!
Baca juga: Data-Driven Marketing: Pengertian, Manfaat, Cara, & Contoh
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya! Di cmlabs, kami senang berbagi artikel-artikel baru dan keren seputar SEO setiap minggunya. Jadi, kamu akan selalu mendapatkan informasi terkini tentang topik yang kamu minati. Jika kamu benar-benar suka dengan konten-konten di cmlabs, kamu bisa bergabung dengan newsletter email kami. Dengan berlangganan, kamu akan mendapatkan pembaruan langsung di kotak masukmu. Oh ya, kalau kamu tertarik untuk berkontribusi sebagai penulis di cmlabs, jangan khawatir! Kamu bisa menemukan informasi lebih lanjut di sini. Jadi, ayo bergabung dengan komunitas cmlabs dan ikuti perkembangan terbaru seputar SEO bersama kami!
Bagaimana pendapat Anda? Apakah Anda menyukai artikel ini?