At cmlabs or PT CMLABS INDONESIA DIGITAL, we’ve built an ecosystem where marketing meets technology — and thrives. We don’t just stop at cmlabs itself; we’re the umbrella over brands like Sequence, VISUWISU, Sequence Stat, Sequence Media Monitoring & Trends, Traffic Farm, StoryLabs, and our favorite, cmlabs SEO Tools (yes, even the Chromium-based version). Our mission? To create a synergy so seamless and sustainable that even the algorithms are impressed. It’s all part of a bigger plan: to keep the tech world on its toes while delivering a marketing ecosystem that doesn’t just work — it evolves.

Saat berbicara tentang mesin pencari, platform apa yang terlintas di pikiran Anda? Kebanyakan orang umumnya akan langsung teringat pada Google.
Google adalah platform mesin pencari yang sangat sukses menjadi top-of-mind di berbagai belahan dunia. Bahkan, tidak sedikit orang yang menganggap bahwa Google bukanlah sebuah merek, melainkan sebutan lain dari istilah “mesin pencari” itu sendiri.
Hingga Januari 2024, Google masih memantapkan posisinya sebagai market leader yang tak tertandingi dengan pangsa pasar mencapai 91,47% (menurut Statista) dan 91,62% (menurut StatCounter).
Persentase ini menunjukkan kesuksesan Google dalam menjadi rujukan utama bagi pengguna internet di seluruh dunia.
Namun, seiring dengan berkembangnya teknologi pencarian melalui pendekatan AI(Artificial Intelligence) dan social media search, keberadaan Google di masa mendatang kembali menjadi perbincangan.
Melalui blog ini, Anda dapat mempelajari lebih jauh tentang dominasi Google di berbagai negara, alasan-alasan yang menguatkan posisi dan market share Google saat ini maupun di masa mendatang, serta studi komparatif yang kami lakukan untuk menganalisis keabsahan dari pernyataan seputar dominasi Google yang beredar. Berikut selengkapnya.
Berdasarkan statistik market share sebelumnya, Google memang tampak mendominasi peringkat dari berbagai mesin pencari di seluruh dunia.
Namun, faktanya, beberapa negara menunjukkan kecenderungan yang berbeda, di mana Google bukanlah pilihan utama dalam pencarian data dan informasi.
Sejumlah negara memiliki preferensi dan regulasi khusus sehingga terkadang lebih condong pada platform mesin pencari lokal atau alternatif internasional lain.
Setidaknya, terdapat lima platform mesin pencari yang meruntuhkan dominasi Google di beberapa negara. Berikut penjelasan selengkapnya.
Hingga Februari 2024, Baidu masih sukses mendominasi wilayah Tiongkok dan sekitarnya dengan pangsa pasar hingga 60,11%. Tahukah Anda mengapa Google tidak bisa mendominasi wilayah Tiongkok?
Salah satu alasannya disebabkan karena kompleksnya bahasa Tionghoa (contoh: kata dengan ejaan yang sama bisa memiliki banyak arti). Dalam hal ini, Baidu tentu lebih ahli memproses kueri karena dirancang khusus untuk dioperasikan dalam bahasa Tionghoa.
Selain itu, algoritma pencarian Baidu lebih berfokus pada relevansi konteks untuk pencarian lokal. Google, baik dalam ranah bisnis maupun teknologi, tampaknya masih mengalami kesulitan untuk menampilkan hasil pencarian dalam bahasa Tionghoa.
Selain itu, kebijakan sensor internet di Tiongkok juga semakin membuat Baidu menjadi pilihan utama karena telah disesuaikan dengan regulasi dan kebutuhan lokal.
Yandex adalah mesin pencari yang meruntuhkan dominasi Google di Rusia dengan market share hingga 71.53%.
Sama seperti Google, Yandex juga dapat memberikan hasil pencarian yang relevan dan menawarkan banyak fitur seperti maps dan penerjemah.
Namun, jika dibandingkan dengan Google, Yandex mampu menyajikan hasil pencarian lokal yang lebih relevan sekaligus mencakup informasi spesifik untuk wilayah masing-masing pengguna.
Tak hanya itu, Yandex juga unggul dalam memahami bahasa Rusia yang sangat kompleks.
Algoritmanya telah dirancang untuk mampu menafsirkan penelusuran dalam bahasa Rusia meskipun terdapat salah ejaan. Bahkan, Yandex juga dapat mendeteksi kueri pencarian dalam CrazyFont (ejaan fonetik Rusia dalam alfabet Latin) yang pada dasarnya masih sulit ditangani oleh Google.
Berdasarkan riset yang kami lakukan, status market share mesin pencari di Korea Selatan cukup bervariasi.
Menurut StatCounter, Google masih mendominasi market share di Korea Selatan dengan angka mencapai 61,31% hingga Februari 2024.

Sedangkan, menurut statistik dari Similarweb, terdapat 2 mesin pencari yang mendominasi di negara ini dengan selisih angka yang cukup kecil.

Meskipun Google tampak mendominasi, namun tidak bisa dipungkiri bahwa penggunaan Naver juga terbilang masif, hingga 40,99% dari total market share.
Statistik Google di atas sebagian besar mengacu pada penggunaan produk Google selain mesin pencari, mengingat Google memiliki lebih dari 200 produk dan layanan untuk ditawarkan.
Karena Naver diciptakan langsung di Korea Selatan, mesin pencari Naver selalu mampu mempertahankan fokusnya pada demografi.
Selain itu, algoritma pencarian Naver dibuat berdasarkan bahasa Korea, sehingga hasil pencarian lokal menjadi jauh lebih relevan dibandingkan Google.
Beberapa waktu lalu, CNBC News merilis sebuah video yang membahas pengaruh dan dominasi Google selama beberapa waktu belakangan.
Di dalam video tersebut, terdapat satu pertanyaan inti yang berusaha dijawab, yaitu:
“Seiring perkembangan AI dan penelusuran media sosial yang pesat dan signifikan, apakah mesin pencari Google akan kehilangan pengaruhnya?”
Temukan jawaban selengkapnya pada pembahasan berikut.
CNBC News menampilkan beberapa potongan video dari sebuah platform media sosial ternama, TikTok. Dalam video tersebut, beberapa content creator menyampaikan bahwa mereka semakin menjauh dari Google dan lebih memilih untuk melakukan pencarian melalui social media search.
Google SVP, Prabhakar Raghavan, pada Fortune’s 2022 Brainstorm Tech, juga mengelaborasi hasil riset mereka yang menunjukkan bahwa hampir 40% Gen Z tidak lagi membuka Google Maps atau Google Search saat mereka mencari restoran atau kafe, melainkan mereka lebih memilih menggunakan TikTok atau Instagram.
Pasalnya, mereka tidak hanya mencari informasi tentang restoran atau kafe, tetapi juga ingin merasakan pengalaman visual dan sosial yang menyertainya.

Selain media sosial, kedudukan Google juga kembali diperbincangkan seiring kemunculan banyak platform berbasis AI (Artificial Intelligence), khususnya ChatGPT.
Namun, faktanya, 7 tahun lalu, CEO Google, Sundar Pichai, sudah mendeklarasikan bahwa Google akan melakukan perubahan masif “mobile first to AI first” dan menjadi perusahaan AI pertama.
Hal ini dibuktikan dengan Google yang sudah lebih dahulu mengakuisisi perusahaan AI DeepMind pada 2014 silam. Namun, menurut beberapa pihak, seperti yang dijelaskan oleh CNBC News dalam videonya, ChatGPT jauh lebih tangkas dalam memanfaatkan momentum dan penerapan teknologi AI ini.
Pada Alphabet Q4 2023 Earnings Call, Justin Post, Direktur Utama Bank of America, mengajukan pertanyaan kepada Sundar Pichai apakah terdapat perubahan signifikan (baik negatif maupun positif) pada volume kueri pencarian dan bagaimana Google bisa tetap mendominasi tool AI lain.
Merespons pertanyaan tersebut, Sundar Pichai menegaskan bahwa Google sudah memiliki rekam jejak yang jauh lebih lama sehingga inovasi yang ditampilkan pun tentu jauh lebih kuat dan memadai. Ia juga menggarisbawahi bahwa generative AI adalah tool baru di ruang lingkup mesin pencari.
Google kemudian menanggapi perkembangan generative AI dengan merilis Search Generative Experience (SGE). Meski secara mayoritas fokus massa tertuju pada platform AI, yang dipercaya akan mengalahkan Google, namun SGE tetap sukses menuai perhatian para investor penting. Berikut adalah grafik yang menunjukkan ketertarikan investor pada Google SGE.

Meskipun beberapa golongan masyarakat mulai mengubah kebiasaan mereka dalam melakukan pencarian, namun sulit rasanya untuk mengatakan bahwa pangsa pasar Google dapat direbut seutuhnya.
Pertama, mari tinjau bagaimana Google dapat terus mempertahankan eksistensinya di tengah maraknya pencarian melalui media sosial.
Keberadaan social media search memang dapat mempercepat konversi konten dari search query teks dan menampilkan hasil pencarian dalam format gambar atau video yang lebih efisien. Salah satu media sosial yang sering digunakan sebagai mesin pencari adalah TikTok.
Namun, pada beberapa negara, misalnya India, Perancis, Jepang, dan Afghanistan, terdapat kebijakan yang ketat terkait penggunaan media sosial, terutama TikTok.
Sebagai contoh, India telah memblokir platform media sosial tersebut dengan alasan algoritmanya tidak dapat mereka pahami atau mereka anggap dapat membahayakan privasi dan keamanan penggunanya.
Kementerian teknologi India menegaskan bahwa TikTok dan aplikasi buatan Tiongkok lainnya dapat mengancam kedaulatan, integritas, pertahanan, dan keamanan negara, seperti yang tertera pada CNBC Indonesia.
Kedua, bagaimana eksistensi Google di tengah maraknya popularitas platform chatbot berbasis AI?
Tidak hanya berhenti sebagai platform mesin pencari, Google terus mengembangkan sayapnya untuk melewati batasan-batasan di bidang teknologi dengan melahirkan cmlabs Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya! Di cmlabs, kami senang berbagi artikel-artikel baru dan keren seputar SEO setiap minggunya. Jadi, kamu akan selalu mendapatkan informasi terkini tentang topik yang kamu minati. Jika kamu benar-benar suka dengan konten-konten di cmlabs, kamu bisa bergabung dengan newsletter email kami Dengan berlangganan, kamu akan mendapatkan pembaruan langsung di kotak masukmu. Oh ya, kalau kamu tertarik untuk berkontribusi sebagai penulis di cmlabs, jangan khawatir! Kamu bisa menemukan informasi lebih lanjut di sini Jadi, ayo bergabung dengan komunitas cmlabs dan ikuti perkembangan terbaru seputar SEO bersama kami! ![]()
Berlangganan Newsletter kami
Masukkan alamat email anda untuk menerima notifikasi Newsletter kami