Google Web Stories adalah konten interaktif yang berfungsi untuk berbagi informasi dengan pengguna audiens melalui halaman yang dapat menampilkan gambar, teks, dan audio. Sebelumnya, format Web Stories dikenal sebagai AMP Stories.
Web Stories dapat diindeks dan muncul sebagai hasil pencarian yang relevan.
Google Web Stories dapat muncul di hasil penelusuran standar atau sebagai carousel di Google Discover. Selain itu, Anda juga dapat menambahkannya ke buletin dan memberi tautan yang menghubungkan situs dengan akun media sosial.

Google Web Stories dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan strategi SEO bagi website Anda. Membuat konten Web Stories perlu dipertimbangkan, sebab hal ini mampu memberikan kesempatan bagi situs Anda untuk muncul di Google Images maupun SERP.
Hal ini berarti secara tak langsung mampu memudahkan pengguna dalam menemukan website Anda. Selain itu, Anda dapat mengkustomisasi web stories dengan menambahkan CTA atau beberapa link yang mampu menggiring trafik ke website Anda.
Jika Anda ingin menggunakan inovasi baru yang mampu memberikan pengalaman yang menyenangkan untuk pengguna, web stories mampu menjadi opsi terbaik untuk mewujudkan hal tersebut.
Pengguna seluler dan desktop dapat melihat Web Stories Anda dalam layar penuh, yang mampu menimbulkan rasa bahwa pengguna sedang berada dalam stories yang Anda buat.
Selayaknya Instagram, Facebook, ataupun google discover, Anda dapat berbagi cerita dengan cara yang lebih menyenangkan untuk pengguna, menggunakan Web Stories.
Menurut data yang disajikan oleh Neil Patel, rata-rata pengguna menghabiskan waktu sekitar 5 jam per hari untuk scrolling konten pada perangkat seluler mereka.
Membuat stories dengan desain yang elegan, serta konten-konten yang bermanfaat dapat membuat pengguna merasa nyaman saat melihat konten dari Web Stories Anda.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membuat storyboard dan draf narasi. Hal ini penting untuk dilakukan, sebab mampu membantu Anda menyusun konsep konten Web Stories yang lebih matang.
Google juga menyediakan template skrip yang dapat digunakan untuk menyusun narasi storyboard.
Setelah membuat draf narasi konten, pilih editor yang akan digunakan untuk membuat Web Stories Anda.
Jika Anda memiliki kemampuan menjadi seorang developer, Anda dapat mengikuti tutorial AMP yang akan memandu dalam proses pembuatan Cerita menggunakan fungsi khusus.
Namun, jika Anda tidak memiliki kemampuan sebagai developer, Anda dapat menggunakan editor yang tidak memerlukan coding dalam proses pembuatan Web Stories.
Apabila Anda merupakan pengguna WordPress, Anda dapat menggunakan plugin Web Stories yang disediakan oleh WordPress.
Setelah menentukan editor, mulailah membuat Web Stories berdasarkan konsep yang telah disusun.
Langkah terakhir yang perlu Anda lakukan adalah mengaktifkan Google Web Stories. Untuk memastikan apakah Web Stories sudah bekerja dengan baik, Anda dapat memeriksanya dengan beberapa tools seperti berikut ini.
cmlabs
Berlangganan Newsletter kami
Masukkan alamat email anda untuk menerima notifikasi Newsletter kami