Flesch reading ease adalah suatu metrik yang digunakan untuk mengukur tingkat keterbacaan suatu teks atau tulisan. Metrik ini dikembangkan oleh Rudolf Flesch yang merupakan ahli bahasa dan konsultan di bidang keterbacaan.
Metrik keterbacaan ini menggunakan rata-rata panjang kalimat dan jumlah suku kata pada teks untuk mengukur apakah sebuah tulisan mudah atau sulit untuk dipahami oleh pembaca. Metrik keterbacaan ini menjadi suatu hal yang penting untuk dipertimbangkan oleh Anda untuk menulis artikel pada website agar teks mudah dipahami oleh target audiens.
Flesch reading ease dapat dihitung menggunakan rumus dan menghasilkan sebuah skor yang dinamakan skor flesch reading ease dengan skala 1-100.
Dalam perhitungannya, Anda perlu mengetahui jumlah kata, jumlah kalimat, dan jumlah suku kata pada keseluruhan teks. Berikut adalah contoh perhitungan tingkat keterbacaan dengan flesch readability formula:
Skor flesch reading ease memiliki skala 1-100, di mana semakin besar skor yang didapat, maka semakin mudah dipahami sebuah tulisan dan sebaliknya.
Rudolf Flesch membagi dua kriteria untuk pembacaan skor metrik keterbacaan ini. Pertama, pembacaan skor flesch reading ease secara deskriptif, yaitu dari yang paling mudah dipahami hingga yang paling sulit dipahami.
Kedua, pembacaan skor dengan berdasarkan tingkat kelas sekolah di Amerika Serikat. Skor yang dihasilkan menunjukan tingkatan kelas di mana umumnya teks tersebut dapat dipahami mulai dari 5th grade hingga college graduate yang kemudian dinamakan Flesch-Kincaid Readability.
Flesch reading ease memang bukanlah ranking factor, namun metrik ini erat kaitannya dengan kualitas konten yang Anda tulis. Konten yang berkualitas merupakan salah satu faktor untuk meningkatkan peringkat website Anda di mesin pencari.
Oleh karena itu, untuk membuat konten yang berkualitas, metrik keterbacaan ini dapat Anda pertimbangkan sebagai salah satu strategi SEO Anda.
Ketika seseorang dengan mudah mengerti apa yang Anda sampaikan dalam teks dan tingkat keterbacaannya tinggi, maka mereka cenderung menghabiskan waktu yang lebih lama dalam website.
Selain itu, memastikan artikel yang Anda buat mudah dibaca juga bukan hanya dapat berdampak positif pada SEO, namun juga dapat membangun kepercayaan audiens.
Konten yang dapat dipahami dengan mudah akan lebih efektif untuk menyampaikan pesan Anda, membuat audiens lebih percaya pada informasi dan produk atau layanan yang Anda tawarkan.
Sebenarnya, tidak ada aturan khusus yang mengharuskan Anda memiliki skor keterbacaan yang tinggi karena hal ini dapat disesuaikan dengan audiens yang ditargetkan.
Untuk beberapa artikel yang formal seperti press release, hasil penelitian, atau review mungkin tidak memerlukan tingkat keterbacaan yang sangat tinggi, namun harus tetap mudah untuk dipahami.
Sebaliknya, jika Anda menulis artikel terkait topik sehari-hari dengan target audiens masyarakat luas tingkat keterbacaan yang tinggi lebih dibutuhkan.
Untuk meningkatkan skor keterbacaan Flesch Reading Ease, berikut adalah beberapa cara yang dapat Anda lakukan:
Hal pertama yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keterbacaan adalah dengan membuat paragraf lebih singkat. Paragraf yang lebih singkat dapat membuat teks lebih mudah dicerna dan dipahami.
Anda dapat membatasi setiap paragrafnya agar hanya memiliki satu ide utama. Hal ini akan membantu pembaca untuk mengikuti alur teks dengan lebih mudah.
Selanjutnya, Anda harus mengurangi penggunaan kata yang bertele-tele. Terkadang, untuk membuat teks lebih panjang, penulis sering kali membuat bridging yang terlalu banyak atau menambahkan informasi yang kurang relevan.
Pembuatan artikel yang baik tidak melulu harus panjang, namun lebih baik relevan, runtut, dan informatif. Anda dapat fokus merangkai kata yang langsung ke inti pembahasan guna memudahkan pemahaman pembaca.
Yang terakhir, pilihlah kata-kata yang mudah dipahami oleh audiens secara luas. Kata yang lebih sederhana akan membuat audiens Anda lebih mudah memahami apa yang disampaikan dalam tulisan.
Kesalahan yang sering terjadi bagi para penulis artikel adalah mencoba untuk menggabungkan satu topik dengan bahasan yang terlalu panjang ke dalam satu artikel. Walaupun topik tersebut penting dan menarik, namun memberikan terlalu banyak informasi dalam sebuah artikel akan membuat audiens kewalahan dan sulit mengikuti alur pembahasan.
Hal ini juga dapat menyebabkan mereka kehilangan minat bahkan meninggalkan artikel sebelum selesai membacanya.
Oleh karena itu, Anda dapat mencoba untuk membagi topik besar tersebut menjadi beberapa judul artikel yang berbeda yang lebih terfokus dan mudah dibaca. Dengan cara ini, setiap artikel akan lebih singkat, jelas, dan sesuai dengan minat dan kebutuhan audiens.
Risca Fadillah
Berlangganan Newsletter kami
Masukkan alamat email anda untuk menerima notifikasi Newsletter kami